Gubernur Rohidin Nikmati Sore Hari Di Taman Mangrove Kampung Jenggalu

231

Gubernur Rohidin Mersyah bersama Komunitas Lestari Alam Laut untuk Negeri (Latun), Penggiat Pelestarian Alam, Penyu dan Mangrove, warga sekitar Kampung Jenggalu Kito (KJK) serta beberapa kepala OPD menikmati senja di Pesisir Sungai Jenggalu, (17/6)

Gubernur Rohidin juga diajak berkeliling menggunakan perahu, untuk mengitari sekitar Sungai Jenggalu yang diinisiasi menjadi pusat edu-ekowisata tanaman mangrove.

“Sepanjang pesisir sungai memang sedang difokuskan untuk dibangun, salah satunya Kampung Jenggalu Kito. Diinisiasi oleh pemerhati lingkungan, tentu menjadi suatu hal yang sangat positif,” ujarnya.

Lebih lanjut, langkah konservasi hutan mangrove dan pemanfaatan mangrove untuk menjadi produk olahan, seperti dodol (gelamai), peyek, maupun olahan minuman seperti teh dari daun mangrove.

“Tahap-tahap awal pengenalannya tentu butuh waktu, namun seiring jalan pasti dapat menjadi nilai ekonomi. Yang lebih penting, tentu kawasan ini terkonservasi dengan baik dan masyarakat mendapat nilai tambah kawasannya menjadi destinasi wisata,” terang Gubernur.

Terakhir, lanjut Rohidin, untuk promosi wisata di kawasan ini di era sekarang (4.0) tentu tidak terlalu sulit, apalagi jika kawasan tersebut unik, bagus, dan menarik. Pasti, wisatawan nantinya akan datang dengan sendirinya.

“Dimanapun tempat wisata, untuk tahap awal pasti butuh waktu. Namun, teman-teman mungkin bisa menjadwalkan kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan, air, ataupun terkait dengan mangrove coba dipusatkan di sini,” kata Rohidin.

Sementara, salah satu penggiat mangrove Atuk Mar mengungkapkan dirinya bersama komunitas Latun sedang berupaya menginisiasi kawasan muara Jenggalu untuk menjadi lokasi edu-ekowisata mangrove.

“Kampung Jenggalu Kito (KJK) akan menjadi pusat edu-ekowisata tanaman mangrove, yang dalam beberapa tahun ini terus dipromosikan dan alhamdulillah respon pemerintah sangat baik,” terangnya.

Di samping itu, masyarakat sekitar juga sudah dilibatkan, mulai dari edukasi tanaman mangrove, hingga masyarakat turut mencari bibit mangrove di sekitar sungai yang kemudian hasilnya dihargai 50 ribu per karung.