Media Group Toba Bahas Potensi PAD  Dengan Leonardo AB Sitorus

415
Rombongan Media Group Toba Dengan Leonardo AB Sitorus

Toba, Pakarnews.id – Bertempat di Balige, Media Group Toba (organisasi wartawan yang bertugas di Kabupaten Toba)  melakukan diskusi ringan dengan Leonardo AB. Sitorus terkait potensi Kabupaten Toba.

Leonardo Sitorus mengungkapkan banyaknya potensi Kabupaten Toba yang perlu digali dan dikembangkan, seperti tuak suling asal Desa Panindii Kecamatan Silaen, kemenyan dari desa Pangururan Kecamatan Borbor dan batu belah sebagai bahan baku penunjang proyek pembangunan fisik yang dipergunakan semua instansi.

Diskusi singkat ini bertujuan mengetahui permasalahan dan mencari jalan keluar serta menggali potensi yang ada untuk kesejahteraan masyarakat Toba.

Seperti yang diungkapkan wartawan senior Wels. Wels menceritakan seorang pengusaha sekaligus kontraktor harus membayar retribusi ke Kabupaten tetangga Tapanuli Utara dan Humbang Hasundutan. Pembayaran dilakukan karena di Kabupaten Toba tidak memiliki tambang batu berizin dan tambang pasir yang merupakan salah satu bahan baku untuk proyek.

Namun ada juga hal yang dipertanyakan awak media Frits terkait lamanya PNS yang menjadi ULP, sehingga dikuatirkan banyak permainan proyek seperti di dinas PU dan Dinas Tarukim.

Leo berharap agar MGT (Media Group Toba) tetap berkoordinasi dengan pemerintah dan memberikan masukan. “MGT harus tetap menggandeng pengusaha dan pemerintah, agar bisa memajukan Toba. Jika pengusaha tidak memiliki ijin, mohon MGT membantu dan jangan terus menyoroti. Pemerintah juga harus membantu dalam pengurusan izin tambang agar pengusaha bisa mendapatkan izin dan PAD bertambah” terang Leo.

Banyak yang disoroti MGT terkait perkembangan Toba. Leo menyarankan agar MGT bisa berkontribusi dalam pembangunan melalui pemberitaan dan memberikan penjelasan kepada pengusaha dalam membantu  pengurusan izin.

Hal lain yang disoroti awak media yang  menjadi sumber PAD (Penghasilan Asli Daerah) diantaranya retribusi sampah, parkir, restoran yang semua bisa ditingkatkan.

“Daerah wisata bisa sumber PAD. Namun dinas tersebut harus melakukan sesuatu pembangunan yang bisa mendatangkan wisatawan. Semua dinas seharusnya membuat Perda” terang Leo.

Banyaknya perusahaan di Kabupaten Toba seperti Inalum, PT. BNE, Regal Spring Indonesia, Jasa Tirta dan TPL bisa memberikan dana CSR nya ke masyarakat. Namun jika masyarakat tidak menagihnya, maka perusahaan akan menyetorkan  ke rekening Pemerintah.

“Kabupaten Toba bisa terbangun dengan dana CSR yang diberikan perusahaan jika masyarakat menagihnya, seperti jalan Provinsi yang menghubungkan Habinsaran Borbor Nassau (habornas) .

Jalan Habornas bisa diperbaiki dengan menggunakan dana CSR dan dana Pemerintah Kabupaten Toba walaupun status jalan provinsi,  dengan menyurati pemerintah provinsi” terang Leo.

Pertemuan pertama ini memberikan gambaran tentang masalah dan jalan keluar, serta menggali potensi yang perlu dikembangkan.

Diakhir pertemuan, Leo meminta MGT berkontribusi langsung kepada pengusaha dan pemerintah daerah. Pemerintah daerah bisa terbantu dengan perolehan PAD dan pengusaha juga bisa berinvestasi dengan tenang karena melakukan kewajibannya. (HSL)